Blog Image

Blog

Jejak Bisnis Muhammad Muda

January 23, 2019
/
Entrepreneur
Jejak Bisnis Muhammad Muda image

Jejak Bisnis Muhammad Muda

Menjelang usia seperempat abad, Muhammad bin Abdullah disibukkan dengan aktivitas berdagang. Di zaman itu, kategori ‘pebisnis’ bukan sekedar tingkat nasional, namun mencakup beberapa negara bagian. Kala itu, Muhammad muda bekerjasama dengan keluarganya, Abu Thalib untuk urusan bisnis.

Perjalanan Dagang Muhammad Muda

Hidup berdampingan dengan pamannya, Abu Thalib yang seorang pedagang, memacu Muhammad untuk ikut serta. Perjalanan dagang pertamanya adalah saat usianya masih tergolong belia, yakni 12 tahun.

Penjelajahan bisnis pertama ini merupakan yang terjauh selama usia Muhammad Muda. Ada pun hikmah dari perjalanan dagang tersebut, terjadi sebuah pertemuan nabi dengan rahib Nasrani yang mengenalinya sebagai bakal utusan Allah yang terakhir.

Di usia sekitar 17 tahun, Muhammad muda bersama As-Saib bin Abus-Saib, melakukan perjalanan dagang internasional pertama tanpa ditemani oleh pamannya. Sebagai pebisnis ulung, keduanya merupakan rekanan bisnis terbaik, yang tidak pernah saling curang dan saling berselisih.

Shafiyyur-Rahman al-Mubarakfurry dalam Sirah Nabawiyyah menyebutkan, dalam berdagang, nabi dikenal dengan setinggi-tingginya nilai amanah, nilai kejujuran, dan sikap menjaga kehormatan diri. Inilah karakternya di segenap sisi kehidupannya, hingga diberi gelar al-Amin.

Afzalur Rahman dalam buku Muhammad A Trader menyebutkan, reputasi Rasulullah dalam dunia bisnis demikian bagus, sehingga dia dikenal luas di Yaman, Syiria, Yordania, Irak, Basrah, dan kota-kota perdagangan lainnya di jazirah Arab. Afzalur Rahman juga mencatat, dalam ekspedisi perdagangannya Muhammad telah mengarungi 17 negara ketika itu, sebuah aktivitas perdagangan yang luar biasa.

Pedagang Untung, Pembeli Untung

Tabiat keluarga Arab dalam berbisnis adalah berkoloni dengan sesama sukunya. Termasuk Muhammad yang enggan berpindah untuk menjalin kerjasama selain dari keluarga Bani Muthalib. Sampai saat itu, Abu Thalib memberikan tawaran kepada Muhammad muda untuk bekerjasama dengan keluarga Khadijah.

Alasan utama mengapa Abu Thalib memberikan tawaran tersebut karena Abu Thalib menilai bisnisnya tengah lesu. Meski sejatinya, alasan yang sebenarnya adalah terletak pada Muhammad muda.

Sepanjang menjalankan bisnis tersebut, Muhammad muda tidak mau menerima keuntungan untuk kebutuhan dirinya sendiri. Muhammad muda masih ingin berbalas budi kepada Abu Thalib karena kebaikannya merawat Muhammad kecil hingga dewasa.

Selain itu, usia Muhammad sudah cukup matang untuk mempersiapkan pernikahan. Sehingga semestinya, keuntungan berdagang tersebut bisa ia tabung untuk kebutuhan dirinya sendiri. Begitulah, sifat ayahanda terbaik sepanjangan zaman ini, memprioritaskan kemashlahatan orang lain di atas kebutuhan pribadinya.

“Pedagang untung, pembeli pun untung,” begitu prinsip yang dijalankan oleh Muhammad muda dalam menjalankan bisnis berdagangnya. Sejarah mencatat, selama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berbisnis, selama itu pula ia tidak pernah rugi. Bahkan untung berkali-kali.

dari telah membeli
sekitar lalu