Blog Image

Blog

Dunia Goncang, Romawi Takluk

December 10, 2018
/
Learn Islam
Dunia Goncang, Romawi Takluk image

Kala itu, media informasi tidaklah sekuat dan setajam saat ini. Tradisi berkirim surat adalah momentum untuk saling bertukar kabar, menyampaikan informasi, bahkan ajakan untuk berperang. Bermodalkan kertas dan pena, surat itu mengantarkan maksud tuannya kepada orang yang dituju.

Namun, efektifkah jika media surat-menyurat digunakan kembali layaknya zaman kenabian dahulu? Kesempatan itulah yang dimodifikasi sedemikian canggih untuk menarik massa, mempropaganda isu bahkan mengadu domba.

Seperti pepatah dari seorang musisi asal Amerika, Jim Morrison, “Whoever controls the media, controls the mind.”

Obsesi Menguasai Media, Awal Kegelisahan Yahudi

Yahudi, sebuah kaum keturunan Bani Israil yang terkenal dengan sikap pembangkang akan ajaran tauhid. Berbagai macam cara dilakukannya demi keserakahannya menguasai dunia. Termasuk upaya mereka untuk menguasai dunia bil media.

Faktanya, kaum mereka telah menguasai hampir 96 persen media hari ini. Sebut saja enam perusahaan raksasa dunia, diantaranya AOL Time Warner, The Walt Disney Co., Bertelsmann AG, Viacom, News Corporation, dan pendatang baru Vivendi Universal. Tidak heran jika opini yang mereka giring sangat mempengaruhi kehidupan masyarakat kita. Seperti yang digembor-gemborkan, fashion, fun, food dan film.

Bukan hal tabu jika kita hari ini terkagum-kagum dengan dasyatnya pengaruh mereka terhadap opini publik dan sangat sulit untuk dimusnahkan. Maka hal pertama yang harus kita sadari adalah bahwa memang seperti itulah tabiat dasar mereka. Bahwa itulah tameng mereka menghadapi ketakutan yang menggerogoti tubuhnya sendiri.

Bahkan untuk menutupi kekurangan di kubunya itu, mereka bersemangat membangun benteng-benteng besar dan tebal. Demikian bentuk pertahanan yang terjadi sejak zaman Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam. Pun sebagai upaya melindungi diri dan menakut-nakuti musuh bahwa kaum Yahudi sangat susah untuk ditaklukkan.

Kisah mahsyur itu termaktub dalam Al-Qur’an Surah Al-Hasyr mengenai pengalihan isu yang dilakukan oleh Yahudi. Yakni para sahabat pada zaman tersebut sempat takut dan sudah hampir putus asa saat melihat tebalnya benteng Ka’ab bin Asyraf. Artinya, sahabat pada saat itu sudah kalah telak dalam mengkonter opini sebelum peperangan dimulai.

Fatamorgana Kekuatan Media Yahudi

Krisis yang melanda masyarakat adalah mudahnya kita mengagumi apa-apa yang yang telah diperbuat musuh-musuh Islam. Sebagian kita melupakan bahwa ada sosok mulia yang harusnya menjadi manusia pertama sebagai sosok panutan. Sebagai wadah bagi kita dalam mencari ilmu Kalamullah. Adalah Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam dengan kecerdasannya dalam mempengaruhi opini publik dunia.

Tertulis dalam Kitabullah Surah Ar-Ruum ayat 1-4, “Alif Laam Miim (1). Telah dikalahkan bangsa Romawi (2), di negeri yang terdekat dan mereka sesudah dikalahkan itu akan menang (3), dalam beberapa tahun (lagi). Bagi Allah-lah urusan sebelum dan sesudah (mereka menang). Dan di hari (kemenangan bangsa Romawi) itu bergembiralah orang-orang yang beriman (4).

Sebagian kita tahu kisah kemenangan Romawi atas Persia yang ditulis dalam surah Ar-Ruum tersebut. Dimana, keberadaan masyarakat Muslimin di Mekkah hanyalah penonton dari pertempuran duo digdaya imperium terbesar dunia. Romawi menang, maka terbuktilah prediksi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.

Lalu, tepat sepuluh tahun pasca peperangan dua imperium itu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mengirimkan surat ajakan untuk memeluk Islam kepada Raja Heraklius, pemimpin Romawi. Menariknya, betapa gagah dan berani Rasulullah menyeru mereka untuk menjadi bagian dari agama Allah ini.

Bayangkan hari ini Amerika baru saja menang melawan Cina. Tak selang berapa lama datanglah surat dari Surabaya yang berisi seperti berikut.

“Bismillahirrahmannirrahhim. Dari Muhammad, hamba dan utusan Allah kepada Heraklius penguasa Romawi. Salam sejahtera bagi siapapun yang mengikuti petunjuk. Amma ba’du.

Dengan ini, aku menyerumu untuk memeluk Islam. Masuk Islamlah, maka Allah akan mengganjarmu dengan pahala dua kali lipat. Akan tetapi, jika engkau menolak, engkau harus menanggung dosa orang-orang Arisi.

Perang Mu’tah, Pertunjukkan Keberanian

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengirim surat melalui utusannya, Harits bin Umair radhiallahu ‘anhu kepada Raja Bushra. Tatkala utusan ini sampai di Mu’tah (Timur Yordania), ia dihadang dan dibunuh. Padahal menurut adat yang berlaku pada saat itu –dan berlaku hingga sekarang- bahwa utusan tidak boleh dibunuh dan kapan saja membunuh utusan, sama saja dengan menyatakan pengumuman perang.

Mengetahui kabar bahwa ada umat Muslim yang dizolimi, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mengirimkan pasukan ke tempat tersebut sebagai bukti perlindungan kepada semua umatnya. Jumlah pasukan yang dipersiapkan sebanyak 3000 orang untuk berkelana dari Madinah ke wilayah Mu’tah,

Mu’tah berjarak kisaran 800 km dari Madinah, dan 300 km dari kekuasaan Romawi di Syam. Artinya lokasi Mu’tah ini adalah lebih dekat dengan Romawi secara geografis. Dan mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mengirim pasukan maka Romawi pun mengumpulkan 200.000 ribu pasukan.

Disini menjadi menarik, karena untuk sebuah negara yang baru saja memenangkan perang melawan Persia, yakni pemimpin peradaban sebelumnya, mengapa Romawi mengirimkan pasukan sebanyak itu hanya untuk melawan Madinah?

Jawabannya adalah Romawi ingin menunjukan pada dunia bahwa, “Jangan sesekali berani untuk menentang kami, bangsa Romawi”. Dan sebagai taktik untuk menghabisi Muslimin dalam satu serangan. Namun melihat kehebatan musuh seperti itu maka salah satu pemimpin perang di kalangan Muslimin yakni Abdullah Bin Rawahah berkata,

 “Wahai kaum! Demi Allah, sesungguhnya apa yang kalian takutkan sungguh inilah yang kalian cari (yakni) mati syahid. Kita tidak memerangi manusia karena banyaknya bilangan dan kekuatan persenjataan, tetapi kita memerangi mereka karena agama Islam ini yang Allah muliakan kita dengannya. Bangkitlah kalian memerangi musuh karena sesungguhnya tidak lain bagi kita melainkan salah satu dari dua kebaikan, yaitu menang atau mati syahid.”

Maka sebagian mereka berkata, “Demi Allah, Ibnu Rawahah benar.”

Saat tiba pertempuran, pasukan Muslimin dikepung habis oleh pasukan Romawi. Mereka yang berjumlah 3000 cukup kewalahan melawan 200.000 pasukan Romawi. Di situasi yang sangat genting itu, seorang Muslimin harus melawan 65 pasukan Romawi. Kepiluan menyeruak di tubuh kaum Muslim karena tiga panglima perang umat Islam saat itu yakni Abdullah bin Rawahah, Zaid bin Haritsah, dan Ja’far bin Abi Thalib syahid di dalamnya.

Sebuah peperangan tanpa nahkoda adalah keniscayaan. Oleh sebab itu, kaum Muslimin memilih Khalid bin Walid untuk menggantikan kepemimpinan perang. Melihat kondisi tersebut, memang mustahil untuk mengalahkan 200.000 pasukan. Maka khalid pun berpikir bagaimana cara untuk menyelamatkan pasukan yang tersisa untuk pulang ke Madinah dengan selamat. Dan dalam kondisi genting seperti itu, membawa pulang pasukan dalam kepungan dan jarak 800 km dari Madinah adalah persoalan yang rumit. Dengan berbagai strategi taktik formasi perang maka khalid pun berhasil membawa pasukan pulang, dengan belasan muslimin yang wafat.

Madinah Terlalu Kuat Untuk Ditaklukan oleh Romawi

Pertanyaanya apakah dengan menarik pasukan seperti itu muslimin dianggap kalah? Jawabannya tidak, karena dunia pada saat itu beranggapan lain. Dunia menganggap bahwa ini adalah fenomena besar. Bahwa telah ada suatu kekuatan besar baru di dunia ini bukan hanya persia dan Romawi saja melainkan ada kekuatan besar baru yakni Islam.

Dan itu menjadi headline news di dunia pada saat itu, bahwa 3000 pasukan Muslimin berhasil menahan 200.000 pasukan Romawi hanya dengan belasan korban jiwa. Bayangkan hari ini pasukan Kopasus melawan US Army di Hawaii selama berbulan-bulan namun berhasil pulang dengan selamat dan kerugian sedikit.

Dan lagi kita mendapati bahwa kecerdasan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dalam mempengaruhi dan mencitrakan Islam di kancah dunia internasional telah berhasil. Beliau berhasil mengubah mindset tentang bangsa Arab yang dianggap udik dan marjinal menjadi bangsa Arab yang Muslim dan berani melawan Romawi.

Cukuplah sejarah menjadi pelajaran bagi kita untuk bekal kita di masa depan.

Oleh: Muhammad Aulia Tri Munandar, ST

dari telah membeli
sekitar lalu